23 Agustus 2009

Karena dia manusia biasa

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga
jawaban duniawi, cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu
jawaban yang sangat terkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih
ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru
saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya
berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya
dilakukan dalam waktu sebulan saja. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang
sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki
membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan
menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal
sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak
ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal
pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya
selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli.
Saya pengin tau, Kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada
apakan gerangan? tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali
waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya
mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta
pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk
menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That's all. Kita
tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa
ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi,
sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang
banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang
ingin saya tanyakan. dia juga ingin bercerita banyak pada saya.Beberapa
kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
"Aku gak bisa tidur." dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya
paham kondisinya saat ini.
"Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur."

"Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu
hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak
hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya
terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang
menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah
pertanyaan yang selama ini saya pendam.
"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci
meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas
didalamnya. Perlahan mia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar
amplop pada saya. saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang
dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih.
Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4,
saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat
diatas dideretan paling atas.
"Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai
membacanya.
Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi
surat itu;

Kepada YTH
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan
calon kakak buat adik-adik saya.
Di tempat

Assalamu'alaikum...
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon, bacalah dulu sampai selesai. Saya, yang bernama ......
menginginkan anda ..... untuk menjadi istri saya. Saya bukan
siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan.
Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi
yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi
kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah.
Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti,
saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan
dan tidak kehujanan. saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak
kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk
mendampingi saya. untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan
kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja.
Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan
merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita
nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan
jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami
dan ayah yang baik. kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak
tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali,
dan saya semakin mantap memilih anda.Yang saya tahu, Saya memilih anda
karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama
saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa,
saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.
Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya
kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho
dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu'alaikum


Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali
ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan
realistis.
Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. surat cinta
minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia
menatap saya dengan senyum tertahan.
"Kenapa kamu memilih dia."
"Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku
tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.
Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."
"Maksudnya?"
"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih
ada. Iya kan ? Paling tidak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau
suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."
"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar
nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil
menutup mulut masing-masing. "Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang
dimarahin Mama." Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.
"Gik..."
"Tidur. Dah malam." saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia
sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur
segala kehidupannya.

Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak
ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan
berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan
bukanlah sebagai beban tapi sebuah 'proses usaha'. Betapa indah bila
proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'.
Embel-embel predikat iri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika
segala yang 'melekat' ada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang
utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk
ibadah.
Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua
menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.

Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu
menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah.

Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua
yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu,
bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses
dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta
itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang
suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan
secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa).
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

**Dikutip dari milis sebelah

Berpuasa agar Bertaqwa

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Ketika seorang berpuasa, ia diperintahkan untuk menahan nafsunya dari makan, minum dan jima', yang di luar puasa hal itu merupakan sesuatu yang dihalalkan. Yang demikian agar manusia terlatih menahan hawa nafsunya dan bisa mengendalikannya.
Namun anehnya sebagian manusia bisa menahan makan dan minumnya, tapi ia tidak bisa menahan nafsunya untuk bermaksiat dan berbuat dosa-dosa.
Bukankah diwajibkannya berpuasa kepada manusia adalah agar manusia bertaqwa kepada Allah, yakni agar terlatih untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan apa yang dilarangnya?

Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. البقرة: 183

Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagai-mana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa. (al-Baqarah: 183)

Seorang yang mampu meninggalkan makan dan minumnya seharusnya lebih mampu meninggalkan kemaksiatan- kemaksiatan.
Seorang yang mampu meninggalkan perkara yang paling dibutuhkan oleh tubuhnya, seharusnya dia lebih mampu meninggalkan sesuatu yang akan merusak dirinya.
Bukankah perkara yang dilarang selama-lamanya tentunya lebih dahsyat dari-pada yang dilarang sementara yaitu saat tertentu di siang hari Ramadlan?
Namun kita lihat, kebanyakan kaum muslimin di bulan Ramadlan masih mencampuri puasanya dengan pelanggaran- pelanggaran syariat yang jelas-jelas telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya seperti:

  1. khalwat (berduaan antara laki-laki dan wanita tanpa mahram), apakah ketika berangkat shalat tarawih atau pun ketika jalan-jalan setelah shubuh untuk melihat matahari terbit.
    Padahal telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

    لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ... رواه البخاري

    Janganlah kalian laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan wanita, kecuali harus bersama dengan mahramnya. (HR. Bukhari dalam kitab an-Nikah)

  1. Memandang wanita/laki- laki yang bukan mahramnya
    Dosa-dosa lain yang telah dianggap biasa oleh sebagian besar manusia yaitu laki-laki memandang wanita dan sebaliknya. Terlalu banyak dosa ini terjadi di kalangan kaum muslimin ketika mereka duduk di depan televisi pada acara sinetron-sinetron yang dianggap "islami", menjelang berbuka atau sahur dan sejenisnya. Terlebih lagi pada acara-acara film lainnya.
    Padahal Allah berfirman:

    قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ... النور: 30-31

    Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya … (an-Nuur: 30-31)

  1. Dosa-dosa yang dikerjakan terus-menerus setiap menit setiap jam setiap hari, yaitu:
    • Seorang perempuan yang tidak memakai hijabnya ketika keluar dari rumahnya.
      Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang hijab:

      يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا. الأحزاب: 59

      Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Ahzaab: 59)

    • laki-laki yang mencukur jenggotnya
      Sedangkan tentang laki-laki, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallammemerintahkan untuk membiarkan jenggotnya agar membedakan dirinya dengan kaum musyrikin, dalam hadits berikut:

      عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ. رواه البخاري ومسلم

      Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallhu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:"Bedakanlah kalian dengan kaum musyrikin, biarkanlah jenggot dan potonglah (kurangilah) kumis kalian!" (HR. Bukhari dalam kitab al-Libaas dan Muslim dalam kitab ath-Thaharah)

    • Laki-laki yang melabuhkan/memanjan gkan pakaiannya di bawah mata kaki.
      Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghabarkan bahwa Allah tidak akan melihat dan mengajak berbicara kepada orang yang melabuhkan pakaiannya di bawah mata kakinya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

      ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَ مِرَارًا قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ . رواه مسلم في كتاب الإيمان

      "Ada tiga manusia yang Allah tidak akan mengajak bicara mereka, tidak mau melihat mereka, tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih pada hari kiamat (beliau shallallahu 'alaihi wasallamberkata 3 kali berturut-turut) . Abu Dzar berkata: "Sungguh celaka dan rugi, siapakah mereka ya Rasulullah?". Beliau shallallahu 'alahi wasallammenjawab: "Yang memanjangkan pakaiannya (yakni di bawah mata kaki –pent.), orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangan dengan sumpah palsu". (HR. Muslim dalam ki-tab al-Iman)

      Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan ancaman bagi orang yang musbil (memanjangkan pakaian dibawah mata kaki) secara umum (tidak menyebutkan sombong atau tidak sombong):

      مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ. رواه البخاري في كتاب اللباس

      Apa yang ada di bawah mata kaki dari pakaian, maka dalam neraka.(HR. Bukhari dalam kitab al-Libaas).

      Tidak ada alasan bagi orang yang memanjangkannya dengan sengaja, kemudian berkata: "Saya tidak sombong". Dikatakan oleh para ulama bahwa cukup seseorang dikatakan sombong, ketika ia memanjangkan dengan sengaja dan berkata: "Saya tidak sombong". Karena para shahabat yang mulia dan lebih jauh dari kesombongan, tidak ada yang berani memanjangkan pakaiannya dengan sengaja. Adapun Abu Bakr Shiddiq radhiallahu 'anhu adalah bukan orang yang menyengaja memanjangkan pakaiannya, bahkan beliau menjaganya agar tidak turun pakaiannya.
      Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Umarradhiallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah bersabda:

      مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلاَءَ. رواه البخاري في كتاب اللباس

      Barangsiapa yang memanjangkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat. Berkata Abu Bakar: "Ya Rasulullah sesungguhnya salah satu sisi kainku turun (melorot), dan aku selalu menjaganya. Maka Nabi shallalahu 'alaihi wasallam bersabda:"Engkau tidak termasuk orang yang sombong". (HR. Bukhari dalam kitab al-Libaas)

    • Ucapan-ucapan zuur (dosa)
      Dosa-dosa yang tidak kalah banyaknya di tengah-tengah kaum muslimin adalah ucapan-ucapan dusta, ghibah (menceritakan kejelekan orang lain), namimah (mengadu domba), mencela, mencerca, melecehkan saudaranya dan ucapan-ucap- an sejenisnya.
      Padahal bahaya lisan sangat mengerikan, hingga diriwayatkan ada seseorang yang menyebutkan satu kalimat yang dianggap remeh olehnya ternyata menjerumuskannya ke dalam Jahannam sejauh timur dan barat.
      Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

      إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ . رواه البخاري في كتاب الرقاق

      Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sesuatu yang dia tidak menganggap ada apa-apanya, ternyata ia terjerumus ke dalam neraka sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dalam kitab ar-Riqaaq dari Abu Hurairahradhiallahu 'anhu)

    • Perkara-perkara laghwun (sia-sia)
      Demikian pula perkara-perkara sia-sia yang tidak bermanfaat sama sekali mereka kerjakan dengan alasan menunggu waktu maghrib tiba.
      Padahal Allah subhanahu wa Ta'ala menyatakan tentang orang mukmin sebagai berikut:

      قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. المؤمنون: 1-3

      Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. (al-Mukminuun: 1-3)

      Ingatlah! berpuasa itu bukanlah hanya dari makan dan minum saja, tapi lebih dari itu, berpuasa merupakan ibadah yang tidak boleh dirusak dengan kemaksiatan- kemak-siatan berupa ucapan atau pun perbuatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

      لَيسَ الصِّيَامِ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ. فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ. رواه الحاكم وابن حزيمة

      Bukanlah puasa itu hanya dari makanan dan minuman. Tetapi juga dari laghwun (kesia-siaan) dan dosa. Maka jika seseorang mencela atau mengganggumu, ucapkanlah: "Sungguh aku sedang berpuasa, sungguh aku sedang berpuasa". (HR. Hakim dan Ibnu Majah).

      Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperingatkan kaum muslimin yang berpuasa untuk berhati-hati dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan jelek agar jangan rusak puasanya dan jangan hilang pahalanya. Beliaushallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

      مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ . رواه الخاري في كتاب الصوم

      Barangsiapa yang tidak meniggalkan ucapan dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makan dan minumnya.(HR. Bukhari dalam kitab ash-Shaum dari Abu Hurairah)

    • Kedhaliman-kedhalim an
      Ketika seorang berpuasa dalam keadaan masih tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dosa, maka pahala puasanya akan hilang karena Allah tidak butuh pada puasanya. Bahkan kalau ia mendhalimi manusia, apakah pada harta atau kehormatannya, maka akan hilang amalan-amalan shalihnya seperti shalat dan puasa sesuai dengan kedhalimannya.
      Sebagaimana dikisahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang orang-orang yang bangkrut pada hadits berikut:

      Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada para shahabatnya:

      أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ. رواه مسلم في كتاب البر والصلة

      Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut? Para shahabat menjawab:"Orang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai dirham dan perbendaharaan harta. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Namun ia telah mencerca orang ini dan menuduh orang itu, memakan harta orang ini dan menumpahkan darah orang itu, memukul orang ini dan orang itu; maka diberikan kepada orang-orang yang ini dengan pahalanya, dan diberikan kepada orang yang itu dari pahalanya. Hingga ketika habis kebaikan-kebaikanny a sebelum seluruhnya tuntas, maka diambil dosa-dosa mereka dan ditimpakan kepadanya. Kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim dalam kitab al-Birr wa ash-Shilah).



Wallahu a'lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 81/Th. II 03 Ramadlan 1426 H/07 Oktober 2005 M

17 Agustus 2009

Buhul Cinta

Cinta adalah air kehidupan, bahkan ia adalah rahasia kehidupan...
Cinta adalah kelezatan ruh, bahkan ia adalah ruh kehidupan...

Dengan cinta menjadi terang semua kegelapan...
Dengan cinta akan cerah alam kemanusiaan...
Dengan cinta akan bersemi perasaan...
Dan dengan cinta akan jernih segala pikiran...

Karena cinta, semua kesalahan akan dimaafkan...
Kerena cinta, semua kelalaian akan diampunkan...
Karena cinta, akan dibesarkan arti kebaikan...

Tidakkah anda lihat rusa betina mendekatkan diri kepada pejantannya?!
Tidakkah tanah yang tandus merindukan curahan hujan?!
Tidakkah anda lihat alam gembira menyambut kedatangan musim semi?!

Itu semua atas nama cinta...
Ya, atas nama cinta!!

Sekiranya lautan mempunyai pantai dan sekiranya sungai mempunyai muara...
Dan sekiranya jalan punya tapal batasnya...
Maka lautan cinta tidak berpantai dan sungai cinta tidak bermuara...
Serta jalan cinta tidak terbatas...

*Dikutip dari buku Buhul Cinta karangan Ustadz Armen Halim Naro*

Arti Cinta

Oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun. Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad. Allah berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14) Rasulullah dalam haditsnya dari shahabat Tsauban mengatakan: ‘Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab: ‘Cinta dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.” Definisi Cinta Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9) Hakikat Cinta Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan. Cinta kepada Allah Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka: “Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31) Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah , faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.” Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik : “Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43) Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara: Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya. Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib. Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan. Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu. Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya. Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya. Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah . Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia). Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur. Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah . (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas) Cinta adalah Ibadah Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah berfirman: “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7) “Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165) “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54) Adapun dalil dari hadits Rasulullah adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.” Macam-macam cinta Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam: Pertama, cinta ibadah. Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas. Kedua, cinta syirik. Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah berfirman: “Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165) Ketiga, cinta maksiat. Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman: “Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20) Keempat, cinta tabiat. Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah berfirman: “Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: 8) Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik. Buah cinta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95) Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110) Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci. Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram. Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram. Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan. Wallahu a’lam. Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=128